Assalamu'alaikum Wr.Wb
Apa kabar remaja seluruh Indonesia, terutama di kampung halaman ku, di kelurahan Pangkalan Dodek Baru, kecamatan Medang Deras, masihkah semangat wahai para pejuang rupiah, dan jangan berputus asa bagi pencari pekerja demi pundi-pundi rupiah, untuk menyambung kehidupan dan hidup lebih sejahtera dari sebelumnya, walau aku, kalian dan kita semua tidak bisa mengandalkan pemerintah untuk bisa memberikan kita pundi-pundi rupiah tuk meraih kesejahteraan itu.
Terlahir dari keluarga sederhana bahkan pernah kekurangan tentang kesejahteraan, apabila kita membahas tentang kesejahteraan sosial, perspektif kita mengacu pada, terpenuhinya kebutuhan primer, sandang, pangan dan papan, namun bukan hanya sekedar kebutuhan primer saja banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, dan kebutuhan itu tidak semua didapatkan masyarakat, contohnya saja, pendidikan yang layak, pendidikan sampai perguruan tinggi, kesehatan dan berobat gratis, lapangan pekerjaan bagi para pengangguran yang tak kunjung dipertemukan dengan pekerjaannya.
Nahhhh,,, inilah yang membuat mereka setelah usai menempuh pendidikan SLTA, atau mereka tidak menamatkan sekolah mereka, kemudian, MENGADU NASIB DAN PENUH HARAPAN DI NEGERI JIRAN.
Namun apakah dengan meraih banyak uang bisa sejahtera tentu saja tidak, tapi untuk bisa sejahtera butuh banyak uang, ceritanya kita jadi bahas uang dan sejahtera ya,
Menempuh pendidikan 9 tahun lamanya, setelah usai menempuh pendidikan, ada tanggungjawab yang mulai dipikul dan semakin hari semakin bertambah, ada raga dan tubuh yang tak lagi kuat, untuk memberikan kebahagian, bahkan untuk memberikan sesuap nasipun mungkin saja tidak mampu, ya,, pada hakikatnya seiring berjalannya waktu, bergantinya tahun, usia mulai berkurang dan semakin rapuh, dan pemilik raga dan tubuh itu adalah kedua orang tua,
cerita remaja kali ini berbeda-beda akan aku jelaskan satu persatu :
1. Ada seorang remaja yang telah menyelesaikan pendidikannya selama 9 tahun dan setelah usai, ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, dikarenakan keterbatasan biaya, dan kedua orang tua tidak mampu membiayainya, mengingat biaya kuliah mahal bahkan melambung tinggi, yang membuat asa itu putus, bahkan untuk mendapatkan beasiswapun tidak bisa, kedua orang tua hanya bekerja dengan penghasilan sangat minim, namun remaja tersebut punya harapan untuk mengadu nasib di NEGERI JIRAN sebagai Tenaga Kerja Indonesia untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.
2. Cerita remaja yang kedua, ada seorang remaja yang telah usai, menyelesaikan sekolahnya di bangku SLTA, ia sangat ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan bahkan beasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggipun banyak sekali pada masa itu, mulai dari beasiswa KIP, BAZNAS, LAZISMU, BEASISWA UNGGULAN berbagai macam ragam, namun apalah daya dari keluarga tidak ada yang mendukung, ayah dan ibunya mengatakan "untuk apa kuliah, lihatlah banyak para sarjana pengangguran di luarsana, dan banyak para sarjana yang kerjanya serabutan, dan tidak sesuai dengan tamatan mereka.", terakhir dari pada menganggur dan jadi pengangguran lebih baik mengadu nasib di Negeri Jiran, untuk memenuhi kebutuhan hidup selanjutnya, dan tidak lagi berpangku tangan pada kedua orang tua.
3. Selanjutnya, ada remaja yang ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, ia bisa berkuliah mengandalakan beasiswa, namun bagaimana mungkin ia merantau dan kuliah di ibu kota, lalu siapa yang menjaga ibunya, menemani ibunya, membantu ibunya, melihat semua kakak-kakaknya sudah punya kehidupan masing-masing, dan usia ibunya tidak lagi kuat untuk bekerja sendirian, lalu bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan ibunya, merantau kuliah ke ibu kota, siapa yang akan membiayai kebutuhan hidup ibunya jika ia berkuliah?, apakah dengan uang beasiswa bisa memenuhi kebutuhan hidup si remaja ini dan ibunya, pada akhirnya Beasiswa saja tidak cukup untuk mensejahterakan kehidupan sosial dan pendidikan, beasiswa bukan segalanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sangat mahal di perantauan, masih ada kurang didalamnya, siapa lagi yang mau diandalkan jika orang tuapun tidak bisa diandalkan, hal inilah yang membuat remaja ini untuk pergi ke Negeri Jiran agar ibunya tidak lagi bekerja, dan ia bisa mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup ibunya, sepenuhnya, tanpa harus berpikir setelah uang bulanan habis dan uang beasiswa belum cair, mau minta ke siapa?, perihal ibu ia akan menitipkan ke kakaknya, dan mengirim uang bulanan untuk ibunya.
Ada banyak cerita lagi selain cerita remaja diatas, beragam macam, keinginan mereka ingin mengadukan nasib ke negeri jiran, untuk memenuhi kebutuhan hidup, mensejahterakan keluarga, melihat sulitnya lapangan pekerjaan di negeri sendiri, yang mengharuskan mereka merantau ke negeri Jiran, melihat sedikitnya pendapatan upah/gaji, yang tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup di negeri sendiri, mengingat naiknya harga sembako yang melambungkan tinggi membuat tidak punya pilihan selain pergi mencari kerja ke negeri orang.
Namun setelah sampai di negeri Jiran, hidup aman dan damai tidak sepenuhnya didapatkan, banyak dari mereka yang kesusahan disana, mulai dari circle dunia kerja, atasan yang kurang baik, egoisme, kehabisan visa/paspor, di penjara, di hukum, lalu bagaimana nasib warga dan rakyat Indonesia di negeri sendiri, dan di negeri orang? Wahai para penguasa, petinggi negara, dan pejabat, tidakkah kalian memikirkan hal ini?
SALAM PERJUANGAN BAGI ANAK NEGERI YANG SEDANG BERJUANG DI NEGERI ORANG, APAPUN YANG KALIAN LAKUKAN, BAIK BEKERJA DAN KULIAH, TETAPLAH KEMBALI KE NEGERI IBU PERTIWI, WALAU PENUH LUKA DAN DERAI AIR MATA HIDUP DI NEGERI SENDIRI, JANGAN BIARKAN NEGERI KITA DI KUASAI PARA PENJAHAT BERDASI, INGAT LAGI PERJUANGAN PARA PAHLAWAN KITA YANG MEMERDEKAN INDNESIA.

.jpg)
.jpg)

