Sabtu, 03 Februari 2024

MENGADU NASIB SERTA PENUH HARAPAN DI NEGERI JIRAN

 


Assalamu'alaikum Wr.Wb

Apa kabar remaja seluruh Indonesia, terutama di kampung halaman ku, di kelurahan Pangkalan Dodek Baru, kecamatan Medang Deras, masihkah semangat wahai para pejuang rupiah, dan jangan berputus asa bagi pencari pekerja demi pundi-pundi rupiah, untuk menyambung kehidupan dan hidup lebih sejahtera dari sebelumnya, walau aku, kalian dan kita semua tidak bisa mengandalkan pemerintah untuk bisa memberikan kita pundi-pundi rupiah tuk meraih kesejahteraan itu. 

Terlahir dari keluarga sederhana bahkan pernah kekurangan tentang kesejahteraan, apabila kita membahas tentang kesejahteraan sosial, perspektif kita mengacu pada, terpenuhinya kebutuhan primer, sandang, pangan dan papan, namun bukan hanya sekedar kebutuhan primer saja banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, dan kebutuhan itu tidak semua didapatkan  masyarakat, contohnya saja, pendidikan yang layak, pendidikan sampai perguruan tinggi, kesehatan dan berobat gratis, lapangan pekerjaan bagi para pengangguran yang tak kunjung dipertemukan dengan pekerjaannya.  

Nahhhh,,, inilah yang membuat mereka setelah usai menempuh pendidikan SLTA, atau mereka tidak menamatkan sekolah mereka, kemudian, MENGADU NASIB DAN PENUH HARAPAN DI NEGERI JIRAN. 


Namun apakah dengan meraih banyak uang bisa sejahtera tentu saja tidak, tapi untuk bisa sejahtera butuh banyak uang, ceritanya kita jadi bahas uang dan sejahtera ya, 

Menempuh pendidikan 9 tahun lamanya, setelah usai menempuh pendidikan, ada tanggungjawab yang mulai dipikul dan semakin hari semakin bertambah, ada raga dan tubuh yang tak lagi kuat, untuk memberikan kebahagian, bahkan untuk memberikan sesuap nasipun mungkin saja tidak mampu, ya,, pada hakikatnya seiring berjalannya waktu, bergantinya tahun, usia mulai berkurang dan semakin rapuh, dan pemilik raga dan tubuh itu adalah kedua orang tua, 


cerita remaja kali ini berbeda-beda akan aku jelaskan satu persatu :

1. Ada seorang remaja yang telah menyelesaikan pendidikannya selama 9 tahun dan setelah usai, ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, dikarenakan keterbatasan biaya, dan kedua orang tua tidak mampu membiayainya, mengingat biaya kuliah mahal bahkan melambung tinggi, yang membuat asa itu putus, bahkan untuk mendapatkan beasiswapun tidak bisa, kedua orang tua hanya bekerja dengan penghasilan sangat minim, namun remaja tersebut punya harapan untuk mengadu nasib di NEGERI JIRAN sebagai Tenaga Kerja Indonesia untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. 

2. Cerita remaja yang kedua, ada seorang remaja yang telah usai, menyelesaikan sekolahnya di bangku SLTA, ia sangat ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan bahkan beasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggipun banyak sekali pada masa itu, mulai dari beasiswa KIP, BAZNAS, LAZISMU, BEASISWA UNGGULAN berbagai macam ragam, namun apalah daya dari keluarga tidak ada yang mendukung, ayah dan ibunya mengatakan "untuk apa kuliah, lihatlah banyak para sarjana pengangguran di luarsana, dan banyak para sarjana yang kerjanya serabutan, dan tidak sesuai dengan tamatan mereka.", terakhir dari pada menganggur dan jadi pengangguran lebih baik mengadu nasib di Negeri Jiran, untuk memenuhi kebutuhan hidup selanjutnya, dan tidak lagi berpangku tangan pada kedua orang tua. 

3. Selanjutnya, ada remaja yang ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, ia bisa berkuliah mengandalakan beasiswa, namun bagaimana mungkin ia merantau dan kuliah di ibu kota, lalu siapa yang menjaga ibunya, menemani ibunya, membantu ibunya, melihat semua kakak-kakaknya sudah punya kehidupan masing-masing, dan usia ibunya tidak lagi kuat untuk bekerja sendirian, lalu bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan ibunya, merantau kuliah ke ibu kota, siapa yang akan membiayai kebutuhan hidup ibunya jika ia berkuliah?, apakah dengan uang beasiswa bisa memenuhi kebutuhan hidup si remaja ini dan ibunya, pada akhirnya Beasiswa saja tidak cukup untuk mensejahterakan kehidupan sosial dan pendidikan, beasiswa bukan segalanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sangat mahal di perantauan, masih ada kurang didalamnya, siapa lagi yang mau diandalkan jika orang tuapun tidak bisa diandalkan, hal inilah yang membuat remaja ini untuk pergi ke Negeri Jiran agar ibunya tidak lagi bekerja, dan ia bisa mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup ibunya, sepenuhnya, tanpa harus berpikir setelah uang bulanan habis dan uang beasiswa belum cair, mau minta ke siapa?, perihal ibu ia akan menitipkan ke kakaknya, dan mengirim uang bulanan untuk ibunya.

Ada banyak cerita lagi selain cerita remaja diatas, beragam macam, keinginan mereka ingin mengadukan nasib ke negeri jiran, untuk memenuhi kebutuhan hidup, mensejahterakan keluarga, melihat sulitnya lapangan pekerjaan di negeri sendiri, yang mengharuskan mereka merantau ke negeri Jiran, melihat sedikitnya pendapatan upah/gaji, yang tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup di negeri sendiri, mengingat naiknya harga sembako yang melambungkan tinggi membuat tidak punya pilihan selain pergi mencari kerja ke negeri orang.


Namun setelah sampai di negeri Jiran, hidup aman dan damai tidak sepenuhnya didapatkan, banyak dari mereka yang kesusahan disana, mulai dari circle dunia kerja, atasan yang kurang baik, egoisme, kehabisan visa/paspor, di penjara, di hukum, lalu bagaimana nasib warga dan rakyat Indonesia di negeri sendiri, dan di negeri orang? Wahai para penguasa, petinggi negara, dan pejabat, tidakkah kalian memikirkan hal ini?

SALAM PERJUANGAN BAGI ANAK NEGERI YANG SEDANG BERJUANG DI NEGERI ORANG, APAPUN YANG KALIAN LAKUKAN, BAIK BEKERJA DAN KULIAH, TETAPLAH KEMBALI KE NEGERI IBU PERTIWI, WALAU PENUH LUKA DAN DERAI AIR MATA HIDUP DI NEGERI SENDIRI, JANGAN BIARKAN NEGERI KITA DI KUASAI PARA PENJAHAT BERDASI, INGAT LAGI PERJUANGAN PARA PAHLAWAN KITA YANG MEMERDEKAN INDNESIA.

Jumat, 02 Februari 2024

MISIKU MENJELAJAHI WILAYAH INDONESIA BAGIAN TIMUR

 Misiku menjelajahi Indonesia bagian Timur, dimulai

Bismillahirrahmanirrahim


Surat Untuk Dosen Pembimbing Skripsiku


SURAT UNTUK DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI KU

(Surat ini saya tujukan untuk, bapak Sahran Saputa, S.Sos, M.Sos.)

Oleh : Suli Siahaan

Mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb……

Teruntuk dosen pembimbing skripsiku, dan juga dosen ku di mata kuliah,Pengantar Sosiologi, Community Organization and Community Development, Advokasi Sosial dan Gerakan Sosial, Praktikum I dan lainnya, di prodi Kesejahteraan Sosial, serta selaku Sekretaris Prodi Kesejahteraan Sosial. Terima kasih telah membimbing saya, memberikan saya ilmu hingga saya mereguk dalamnya sumur ilmu pengetahuan di bangku kuliah. Ilmu yang tidak akan saya dapatkan jika saya tidak menempuh pendidikan tinggi, dan merasakan pahit manisnya menjadi mahasiswa di era Digital, 5.0.

Pak, akan tiba waktu dimana suli akan menyelesaikan apa yang sudah suli mulai, empat tahun kurang lebih semuanya sudah suli lalui semenjak berproses di kampus ini, menjadi bagian dari prodi Kesejahteraan Sosial, belajar banyak mata kuliah, terutama mata kuliah  yang bapak ajarkan, tentang Ketika kita menghadapi masalah, maka kita jangan berfokus pada masalah tetapi fokuslah pada kemampuan, potensi yang kita miliki, serta mencari solusinya”. Inilah yang menjadi motivasi suli, ketika suli menghadapi banyak masalah selama menempuh pendidikan menjadi mahasiswa perantau di ibu kota Sumatera Utara, serta suli bawa pulang ke tempat pertama kali suli membuka mata dan melihat dunia. (Kampung Halaman).

Pak, perihal tentang jurusan yang suli tekuni saat ini dan akan menyandang status Sarjana Sosial, dibidang ini, jujur ini bukanlah jurusan yang mudah untuk suli memikul amanahnya,, dimana seorang pekerja sosial yang harus mampu mencari solusi dari permasalahan kliennya, mensejahterakan masyarakat, dan itu bertolak belakang dengan suli yang masih punya banyak masalah sosial ekonomi, dan belum sejahtera, tetapi dengan berfokus pada kemampuan insyaallah suli pasti bisa, karena suli yakin dengan Allah, bahwa Allah tidak akan memberikan sesuatu hal kepada hambanya jika hambanya tidak mampu memikulnya, atas izin Allah suli menekuni program studi ini,

Pak, Suli bukanlah dari keluarga yang berkecukupan dan serba ada, suli lahir dari seorang ayah tukang bengkel, dan ibu pedagang kaki lima, suli anak ke-3 dari 4 bersaudara, tapi ayah ibu suli adalah orang tua yang hebat orang tua yang luar biasa, kami tidak diberikan hidup mewah, dan harta, tetapi orang tua suli membekali kami dengan ilmu dunia, ilmu agama dan mengenalkan kami pada Allah, dan Alhamdulillah dengan bekal ilmu yang orang tua suli berikan, suli bisa sampai menapaki ranah impian suli di kota ini, menembus dinding kokoh pembatas mimpi, melewati besarnya terpaan badai keraguan akan cita-cita, hingga babak belur di hajar keadaan, menghadapi buasnya dunia luar, semua rasa suli rasakan, sebab suli ingin sukses lewat jalur perjuangan dan meraih sukses dengan deraian air mata kebahagiaan karena terpana dengan indahnya nikmat dan kasih sayang Allah.

Pak, sebelum suli menempuh pendidikan tinggi dan menjadi bagian dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, ayah suli sudah meninggal dunia, yang dimana suli merasa memikul satu masalah yang sangat berat, yaitu  kehilangan sosok seorang ayah dari hidup suli, yang membuat suli tidak mampu menghadapi hidup, kehilangan arah mimpi dan cita-cita suli, yang membuat suli mungkin tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, tetapi atas izin Allah, suli di tangguhkan lagi, suli dikuatkan kembali karena melihat wajah ibu suli dan harapan besar ibu suli kepada suli, hingga pada suatu ketika suli dihadapkan dengan masalah Bansos (Bantuan Sosial) yang membuat suli menemukan hikmah dibalik permasalahan itu, hingga pada akhirnya sampailah suli dikampus UMSU, dan resmi menyandang status sebagai Mahasiswa, dan bertemu dengan dosen yang baik, memahami, dan aware kepada mahasiswanya.

Intinya dari surat ini, Pak,  akan tiba waktunya suli harus menyelesaikan kewajiban suli sebagai mahasiswa, menyelesaikan skripsi suli, yang mungkin tak searah dan indah dimata bapak, tapi suli mohon bapak akan senantiasa membimbing suli hingga wisuda, pak, ketika menjelang penghujung semester, semangat suli akan pencapaian gelar sarjana memudar, karena bukan capaian gelar yang menjadi tujuan suli sebenarnya, tapi bagaimana suli bisa sampai ditahap ini dan mampu menyelesaikannya, pak, ada banyak orang yang suli sayang menanti kabar tentang suli, apakah sudah menyelesaikan study atau belum, dan itulah yang sedang suli perjuangkan, penyelesaian atas apa yang sudah dimulai untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang yang suli sayangi terutama Alm. Ayah suli dan juga ibu suli di kampung, yang tetap kuat walau sendiri mencari nafkah untuk menyambung hidup kedepannya.

 Pak, kelak setelah study ini usai, suli akan menghadapi dunia suli yang baru, bertemu dengan orang-orang baru dan mungkin tidak akan bertemu lagi dengan orang yang baiknya persis seperti bapak, tidak ada kata lain yang bisa suli utarakan ke bapak selain ucapan terima kasih dan do’a yang senantiasa suli panjatkan di setiap usai sholat untuk bapak.

Suli sangat bersyukur dan takjub dengan indahnya skenario Allah tentang takdir yang mempertemukan suli dengan orang seperti bapak, suli juga senang bertemu dengan keluarga bapak, ibu lidia, dan juga fatih, suli sempat kaget waktu bapak nelpon suli dan meminta suli untuk menemui bapak, di DPR (Dibawah Pohon Rindang), dan meminta suli untuk menjadi guru les privatnya fatih, rasa campur aduk senang, dan mungkin membuat suli tertantang, walau sebenarnya suli pun juga punya pengalaman mengajar waktu di kampung halaman, tapi yaa,, jelas berbeda setiap tempat dimana kita mengajar, dan alhambdulillah suli meneriman tawaran bapak, karena suli memang sedang mencari kerja part time untuk anak kuliah, dan uangnya berguna sekali untuk membayar uang kost dan uang makan, yaa,, itulah yang suli pikirkan selama menjadi anak kost-kosan, uang makan sehari-hari, uang kost, dan kebutuhan lainnya, walau suli salah satu mahasiswa penerim Beasiswa KIP dari pemerintah,  jujur uang bulanan KIP kurang, dan suli berusaha mencukup-cukupkannya dan Alhamdulillah cukup walau sebenarnya sulit di ceritakan.

Mungkin bukan suli saja anak kost-kosan yang tiap bulannya memikirkan itu, mungkin banyak, tapi dari sebahagian ada juga yang biasa-biasa saja karena mengandalkan uang dari orang tua, yang berkecukupan.

Terimakasih pak, telah menjembatani suli meraih mimpi, menjemput gelar dan menyandang status sebagai Sarjana Sosial, semoga bapak dan keluarga senantiasa dalam lindungan Allah, berkah rezekinya, dan berkah usianya, menjadi motivator dan penggerak mahasiswa serta muda-mudi Sumatera Utara dan Indoesia,

Terimakasih pak, mohon maaf  jika ada kata-kata dalam surat ini yang salah suli minta perbaikannya….

Terimakasih……

Telah membaca…

Billahi fii Saabilil Haq, fastabiqul khairats Wassalamu a’laikum Warahmatullahhi Wabarakatuh……..

 

Salam Perjalanan Impian

 

Suli Siahaan



 Assalamu'alaikum Wr.Wb. Alhamdulillahhi bini'mati tatimusshalihat, wa alhamdulillahi a'la kulli hallin. shalawat dan salam terc...