Kamis, 13 Juni 2024

 Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillahhi bini'mati tatimusshalihat, wa alhamdulillahi a'la kulli hallin.

shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah SAW panutan dan pembawa risalah akhir zaman.

wallahu a'ala kulli syaiinqqadir, maha kuasa Allah atas segala sesuatu, bersyukur kita kepada Allah hari ini kita telah diberikan nikmat yang tiada tara, berupa nikmat kesehatan, iman, ihsan dan islam, sehingga kita dapat melaksanakan acara yudisium, karena kalau kita tidak sehat tidak mungkin kita berada di sini.

hari ini adalah hari dimana  gelar yang kita sandang akan diresmikan, kita akan menyandang status sebagai sarjana dan alumni di universitas muhammadiyah sumatera utara. 

saya akan membawa teman-teman flash back ke waktu bagaimana gelar ini di raih, 

mengajukan judul, berulang kali ditolak, hingga akhirnya diterima

bimbingan, menghubungi dosen, sulitnya untuk bertemu, 

saya suli siahaan,  dari prodi kesejahteraan sosial fisip umsu, 

Senin, 27 Mei 2024

Langkah Kecil Menuju Cita-Cita Besar



Langkah Kecil Menuju Cita-Cita Besar

Oleh : Suli Siahaan

Email : suli.siahaan1012@gmail.com

Instagram : suli.siahaan_1001

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Hayy….perkenalkan aku Suli Anggriani Siahaan, aku terlahir dari keluarga sederhana, memiliki banyak kekurangan, dan keterbatasan, dari seorang ibu pedagang dan ayah tukang tambal ban dan aku tidak pernah, bahkan sering  mengeluh  dengan status sosialku, namun dengan aku mengeluh tidak akan merubah status sosialku, dengan kuat hati aku harus sabar dan ikhlas menerima, karena aku dididik untuk menjadi perempuan yang kuat dalam menghadapi hidup yang seperti roda berputar.

Aku lahir di 10 Desember 2001, di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Batu Bara, di Kelurahan Pangkalan Dodek, disebuah perkampungan, di gang kecil dan sempit juga kumuh, hidup berdampingan dengan tumpukan sampah dan rumahku yang dekat dengan got saluran pembuangan, iya itu tempat tinggalku, itu tanah kelahiranku, di tempat itu aku lahir, aku hidup, aku tumbuh, aku bermain bersama teman-teman , aku bahagia, aku menangis, aku terjatuh dan aku bangkit, aku mengenyam pendidikan, tempatku belajar, mencari sesuap nasi, tempatku berbagi ilmu, dan kalian tau tanah kelahiranku adalah tempat aku melewati berbagai tamparan hidup yang membuat pipiku merah, biru lebam untuk kuat menghadapi kenyatan hidup yang begitu keras, hingga aku kebal dan terbiasa menerimanya, agar tidak menjadi perempuan yang cengeng dan mudah berputus asa lalu dengan mudah mengakhiri hidup karena tidak mampu menghadapi kenyataan hidup.


Iya itu aku, dari kecil hidupku memang dihiasi dengan berbagai ujian yang menyapa, hadir lalu singgah kemudian pergi, aku sempat berpikir bodoh karena ingin bunuh diri, namun hal itu hanya niat dan tidak terealisasikan, karena saat itu aku masih kecil, masih remaja pikiran ku masih labil, tidak ada yang memberikan aku dukungan dan bantuan saat aku sendiri terluka, saat aku sendiri menangis, luka dan air mata itu ku tutup rapat tanpa ada celah sedikitpun agar tidak ada satu orang pun yang tau termasuk ayah dan ibuku.

Seiring berjalannya waktu aku menginjak usia remaja dan mulai dewasa serta bertambah mengerti tentang banyak hal yang tejadi dalam hidupku, ketika usia ku beranjak 17 tahun ayahku meninggal dunia, hal yang sangat pilu dan menyedihkan kehilangan ayah yang telah pergi untuk selamanya, kembali kepada Allah dan apapun kenangan yang sudah dilalui bersama ayah hanya menjadi kenangan dan akan selalu abadi dalam ingatan, aku, ibuku, kedua kakak ku, dan adikku akan terus melanjutkan hidup tanpa ayah lagi.


Terimakasih 17 tahun telah berlalu, masih sangat jernih ingatan-ingatan tentang segala hal-hal yang terjadi di masa lalu, di usiaku  yang ke- 19 tahun Alhamdulillah Allah izinkan aku untuk bisa melanjutkan pendidikan tinggi, di ibu kota Sumatera Utara, Medan, Allah menyelamatkanku dari kata “Setelah lulus sekolah jadi pengangguran” iya “pengangguran” kata dan sesuatu hal yang aku tak berani untuk mendekati itu, pernah terfikir setelah lulus SLTA, aku ingin bekerja menjadi cleaning service agar aku tidak menjadi pengangguran, dan punya penghasilan, di benakku satu “kerja apa saja yang penting halal”.

Namun Allah berkehendak lain, ternyata benar Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya, yang dahulunya setelah lulus dari sekolah SLTP aku ingin masuk SMK di luar kota, dan MAN di Kota Medan, namun Allah berkehendak lain aku masuk di sekolah Madrasah di daerah tempat tinggalku juga, dan aku tidak menyangka setelah lulus dari Madrasah Aliyah itu, aku bisa kuliah di kampus Unggul, terbaik di Pulau Sumatera yang dengan izin Allah akan menjembataniku menuju mimpi-mipi besar ku.

Bismillahirrahmanirrahim disinilah perjalanan Impian itu di mulai, di bulan Oktober di tahun 2020 aku resmi berstatus sebagai mahasiswa di UMSU, dan akan menjalani perkuliahan selama kurang lebih 8 semester, ya aku tidak tau apakah aku akan kuat dan istiqamah menjalani perkuliahan 4 tahun kurang lebih, khawatir dan rasa takut akan ketidak pastian diri, membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Walau pada saat itu adalah masa-masa covid-19, yang Alhamdulillah selama 4 semester kurang lebih perkuliahan daring, namun segala kegiatan organisasi tetap berjalan luring, yang mengharuskanku ke kota Medan, awal perkuliahan begitu campur aduk, rasa takut akan ketidaktahuan, tidak mampu beradaptasi dengan mereka yang berbeda denganku, merasa diri belum cukup ilmu untuk menduduki bangku perkuliahan,.


Namun rasa bahagia telah menjadi mahasiswa, berkuliah dikampus terbaik, serasa mampu membuktikan pada dunia, bahwa aku bukanlah sosok yang lemah, tidak berdaya dan tidak mampu merantau, menemukan hal baru saat menjadi mahasiswa, belajar percaya diri, menambah skill publick speaking, sungguh tak ku sangka ucapanku kala itu di aminkan oleh malaikat, yang dimana guruku pernah bertanya saat aku masih duduk dibangku kelas XII-IPS, “ Suli, setelah lulus SMA kamana kamu akan melanjutkan perjalanan? Tanya beliau, aku menjawab, saya akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Ibu Kota Sumatera Utara. Yang aku tak menyangka ucapanku yang ini yang di aminkan malaikat, aku juga pernah berucap kemana temanku bahwa setelah lulus SMA nanti aku ingin menjadi cleaning service, namun itu bukanlah ucapan yang baik, dan bukan ucapan itu yang baik untukku, dan, ya, pada akhirnya hidup ini adalah atas keinginan Allah, dan apa yang diberikan Allah itulah yang terbaik.


Aku tak menyangka doa ku, doa ibuku membawaku sampai sejauh ini, aku pernah berdoa untuk Allah pilihkan menjadi salah satu penerima KIP-Kuliah itu, dan Allah ijabah dan ridhoi hingga sampailah perjalananku sejauh ini,.

Aku juga pernah minta ke Allah untuk bisa beli laptop, untuk menulis cerita, dan minta hp Android dan dengan izin Allah apa yang kumiliki sekarang adalah permintaanku yang dahulunya pernah aku minta ke Allah lewat do’a., dan sekarang aku ingin minta pekerjaan yang sesuai dengan lulusanku, pekerjaan yang baik, dan halal serta mapan, aku ingin minta ini ke Allah semoga suatu hari Allah kabulkan.

Dimulai 2020 hingga 2024 memulai perjalanan diperantauan, dimulai dari langkah kecil, menapaki kaki di kota metropolitan, rasa takut akan kasus-kasus criminal yang terjadi, merasakan hidup di kota besar dengan berbagai kriteria dan karakter manusia yang baik maupun tidak baik, mencoba memberanikan diri, meredam rasa takut, walau sebenarnya ingin kembali saja ke kampung halaman.

Hingga pada akhirnya, rasa takut itu sirna, perlahan sudah mulai berani hidup asing di kota besar, menjelajahi berbagai tempat di kota Medan, bahkan tempat yang pernah terjadi kasus criminal, ya, tentu saja bahwa tidak akan ada cerita jika tidak berani memulai, bagaimana untuk menuju jalan sukses itu jika tidak berani untuk melangkah kan kaki dari langkah kecil.

Selesai, sudah 4 tahun kurang lebih aku berkuliah di kampus unggul dan terbaik itu, status mahasiswa sudah tidak lagi kusandang, dan aku resmi menjadi alumni di kampus itu, perjalanan lika-liku selama 4 tahun kurang lebih, membuat tangis ku tiada henti saat kata alumni ku sandang.


Betapa bahagianya aku selama 4 tahun kurang lebih perjalananku dibersamai oleh Allah, di kuatkan oleh doa-doa ibuku, yang membawaku pada pertolongan dan perlindungan Allah, Teriknya sinar mentari hampir membakar tubuh, namun tetap kuat dikarenakan asa dan cita-cita lebih membara dalam diri, dinginnya hujan yang membasahi tubuh, tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan menyelesaikan studi, badai dan ombak yang menerjang saat berada di tengah laut pada malam hari gelap gulita tiada siapa-siapa hanya ditemani rintikan hujan dan hembusan angin serta cahaya yang kian meredup, semua pernah ku lalui demi aku ingin “ayah dan ibuku bangga memiliki anak sepertiku, suli anggriani siahaan”…


 

 

 

Senin, 06 Mei 2024

Menempuh 1.279 Episode

 

Menempuh 1.279 Episode

Oleh : Suli Siahaan

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb, …..

Bapak terimakasih telah memberikan kemudahan kepada suli dalam meraih gelar ini, terimakasih sudah membimbing suli, terimakasih bapak selalu memberikan waktu bapak untuk suli ditengah-tengah padatnya jadwal bapak, dan lelahnya hari-hari bapak,

Bapak maaf ya, jika suli banyak gak taunya, maaf ya pak jika suli banyak bertanya, dan maaf-beribu maaf ya pak untuk semuanya jika suli ada salah, suli minta keridhoan bapak atas ilmu yang telah bapak ajarkan kepada suli, agar ilmu ini menjadi berkah dan mampu suli amalkan, izinkan suli menjadi bayang-bayang bapak untuk turut serta menyebarkan ilmu ini, diatas bumi Allah untuk pertanggungjawaban dihadapan Allah nanti di hari kiamat,


1.279 episode dalam drama nyata perkuliahan sudah suli perankan sebaik mungkin, dari awal memasuki perkuliahan di Oktober 2020 hingga saat ini mampu menyelesaikan studi, dengan sabar tanpa tapi dan ikhlas tanpa tepi, penuh darah dan air mata, pada akhirnya di tanggal 08 Mei 2024 Gelar Sarjana Sosial itu berhasil suli raih serta mendapatkan predikat pujian dengan nilai 3,87.

     Menempuh 1.279 Episode bagi suli tidaklah mudah, ada peran yang menguras fisik dan mental, ada bagian-bagian yang sulit diselesaikan satu hari juga hingga harus bersambung esoknya lagi, di Episode yang mencapai ribuan ini membuat suli mengetahui banyak rasa, karena suli memerankan drama ini di Ibu Kota Sumatera Utara dan berperan sebagai Mahasiswa perantau, Jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan tau rasanya berkuliah di kampus terbaik dan unggul, Jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan tau rasanya mereguk dalamnya sumur ilmu pengetahuan di bangku kuliah,  jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan merasakan asyiknya belajar mata kuliah yang bapak ajarkan beserta bapak dan ibu dosen yang lain, jika tidak menjadi mahasiswa suli tidak akan merasakan indahnya lelah yang berakhir lillah karena berbagai kegiatan organisasi yang menambah wawasan dan pengetahuan suli, jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan merasakan bahagianya berkeliling kampus umsu dan menikmati pemandangan dari lantai 7 fakultas teknik, jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan merasakan bergemuruhnya hati, dan berkecamuknya fikiran dibantay berbagai tugas-tugas kuliah, jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan merasakan deg-degan nya saat berurusan ke biro untuk menyelesaikan berbagai berkas, dan jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak bisa naik pesawat gratis dan menapaki ranah impian suli.


Jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan bertemu dengan dosen sebaik bapak Sahran, bapak Muja, ibu Yurisna, Ibu Atikah dan semuanya yang tidak bisa suli sebut satu persatu, jika tidak menjadi mahasiswa suli mungkin tidak akan bertemu dengan orang-orang hebat dan menginspirasi, jika tidak menjadi mahasiswa suli mungkin tidak akan bertemu dengan artis, dan jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan bertemu dengan seseorang yang membuat suli bahagia dan patah hati, hingga pada akhirnya mampu untuk pulih kembali.

Jika tidak merantau suli mungkin tidak akan merasakan hiruk-pikuknya tinggal di kos-kosan, jika tidak merantau mungkin suli tidak akan merasakan hidup jauh dari orang tua, penuh deraian air mata karena rindu, jika suli tidak merantau suli mungkin tidak akan merasakan makan hanya sehari sekali, makan hanya pakai nasi dan kecap, makan dengan makanan yang dipanasi berulang kali, mungkin jika suli tidak merantau mungkin suli tidak akan merasakan bersemangatnya pulang kampung dan malasnya untuk kembali berjuang lagi di perantauan.


Pada akhirnya semua yang dirasakan berakhir juga, ternyata benar bahwa semuanya hanyalah sementara, bahagia dan duka semuanya hanya sementara, lalu tugas kita untuk menghiasinya agar lebih indah untuk dikenang selalu.

Dalam tulisan ini suli ingin mendokumentasikan episode yang berjalan selama 1.279 episode itu, agar suli tidak lupa dengan perjalanan impian itu, yang akan selalu suli baca dan menjadi halaman paling mengharu biru dalam tulisan blog suli, yang tokohnya adalah Para Dosen terbaik suli di Progran Studi Kesejahteraan Sosial.

 

Selasa, 05 Maret 2024

PERJALANAN SATU SEMESTER KU

 


CERITA PENGALAMAN PMM 3 DI UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG

( Tentang Aku, Kamu, Kita dan Tanah Papua)

Oleh : Suli Siahaan

Mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial, FISIP UMSU

 

Hayyy, Perkenalkan aku “Suli Anggriani Siahaan”, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,  aku bersyukur kepada Allah karena untuk semester 7 di 2023 kemarin Allah izinkan aku untuk eksplor tanah Papua, dengan mengikuti program kampus merdeka yaitu, Pertukaran Mahasiswa Merdeka, yang dahulunya mimpiku tertunda untuk bisa mengikuti PMM 2, tahun 2022 di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, karena aku tidak lolos, aku sangat sedih sekali saat itu, melihat temanku lolos dan aku tidak, aku merasa hidup ini tidak adil, tapi aku tetap percaya bahwa rencana Allah jauh lebih baik dari rencana ku, aku tak putus asa aku terus berusaha dan yakin pada Allah bahwa kesempatan akan senantiasa hadir bagi orang-orang yang gigih dalam memperjuangkan, dan untuk semester depannya di 2023 aku mencoba lagi untuk mengikuti program tersebut dan Alhamdulillah, aku lolos di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Papua Barat Daya, aku senang sekali dan inilah bukti bahwa Allah maha tahu atas segala sesuatu dan apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik.

Memulai pengalaman dan memupuk banyak cerita di Ujung Timur Indonesia, awalnya melihat teman mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa, dan mengeksplor banyak tempat bersejarah di Nusantara, dari Sabang sampai Marauke membuat saya pun tertarik untuk mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa tersebut, mulailah saya mendafatar akun MBKM, dan untuk mendaftarnya lumayan sulit, karena banyak yang harus diisi dan saya pun belum begitu paham, saya terus berusaha dengan gigih demi mewujudkan mimpi saya untuk berkelana dan menjelajahi Indonesia, dan impian besar saya saat itu ialah untuk terbang ke angkasa naik pesawat terbang, karena sebelum saya menduduki bangku kuliah saya sangat ingin merasakan bagaimana terbang naik pesawat, setiap kali saya melihat pesawat terbang yang melintas di langit biru, saya berucap bahwa “ Semoga suatu hari nanti saya bisa terbang naik pesawat”, melihat keindahan alam dari angkasa, dan itu saya tanamkan dengan sungguh-sungguh dan saya niatkan untuk meraih cita-cita dan mewujudkan mimpi-mimpi saya. Hingga pada akhirnya, Allah takdirkan saya untuk menjadi bagian dari kampus terbaik swasta di kota Medan yaitu, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, dan takdir ini membuatku bersyukur dan bahagia, lanjut cerita mengenai Program Pertukaran Mahasiswa, setelah berusaha dengan gigih dalam mendaftar, semua berkas telah di upload, dan Alhamdulillah melaju ke tahap selanjutnya, setelah tahap-demi tahap dilewati, tibalah saat yang sangat ditunggu-tunggu doa-doa terus ku langitkan tiada henti, berharap dapat kabar bahagia dari kabar pengumuman tersebut, hingga pada akhirnya, pengumuman tersebut di umumkan,dan ketika aku melihat di akun/ di laman PMM ku ternyata aku tidak lolos, saat itu juga aku kecewa, harapanku hancur, mimpiku tak terwujud aku menangis pilu sejadi-jadinya, dan merasa sesakit itu menerima kabar tidak lolos, seolah itu kabar terburuk yang pernah tersampaikan padaku, seiring bergulirnya waktu, hari-hari berganti, aku coba tuk menguatkan diriku, dan menerima kenyataan, dan tiada hentinya berharap bahwa pasti akan ada kesempatan dilain waktu bagi orang-orang yang senantiasa memperjuangkan.

Setelah gagal PMM 2 disemester 5, aku coba untuk mencoba lagi PMM 3 di semester 7, aku berusaha lagi, dengan penuh keyakinan dan izin orang tua aku berharap bisa lolos, aku berusaha lagi, mengisi data, membuat akun, mengurus segala berkas, kemudian mengupload berkas, tahap-demi tahap kulewati, membumikan usaha dan terus melangitkan doa tiada henti, semoga untuk kali ini Allah ijabah do’aku, aku memilih kampus yang sama seperti tempat pertama kali mendaftar PMM, yaitu, UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG, PAPUA BARAT DAYA,  saya memilih di Papua karena saya ingin, mengeksplor indahnya tanah Papua, dan ke Raja Ampat,  dan ke Puncak Love, sebelum pengumuman ke lolosan di umumkan, aku selalu mengecek instagram resmi Pertukaran Merdeka, agar tidak ketinggalan informasi. Setelah sabar menanti perihal pengumuman akhirnya tibalah saatnya pengumuman tersebut di umumkan, pada saat saya ingin melihat hasil pengumuman saya lolos atau tidak, akun saya sulit sekali untuk di buka, saya sangat khawatair, saya takut saya tidak lolos untuk kedua kalinya, saya mencoba memita bantuan kepada teman-teman saya Mahasiswa UMSU yang juga lolos di UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG, dan Alahamdulillah setelah akun saya di buka olehnya, tertera tulisan bahwa saya “LOLOS”, saya langsung tersungkur bersujud syukur, saya sangat bahagia, dan untuk memastikan lagi saya mencoba untuk membuka akun saya sendiri di Android saya, dan informasinya benar, Bahwa saya benar-benar “LOLOS, tiada henti-hentinya saya bersyukur kepada Allah atas kabar gembira itu, ternyata Allah izinkan saya di semester 7 untuk mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa itu, bukan di Semester 5, yang dimana saya mengikuti PMM 3 ini saya sudah menyelesaikan SKS saya, dan ketika pulang dari Program tersebut, saya tidak mengikuti perkuliahan lagi karena saya sudah selesai menempuh semua SKS, inilah yang dikatakan bahwa “TAKDIR ALLAH DAN APA YANG IA KEHENDAKI PASTI TERLAKASANA”, DAN APA YANG ADA DISISI ALLAH JAUH LEBIH BAIK.

Pada tanggal 29 Agustus 2023 saya pun berangkat meninggalkan kota Medan dan Pergi ke kota Sorong, untuk menjalani program, dari bandara Kwalanamu medan menuju bandara Sekarno Hatta Jakarta, setelah transit di Jakarta, kemudian sampailah di Bandara DEO Sorong, sebelum sampai di Sorong Papua, saya melihat pemandangan dari atas sangat indah sekali tanah Papua, pulau-pulau yang airnya jernih dan berwarna indah, ditambah dengan tumbuh-tumbuhan dan bebatuan yang tumbuh dan berdiri diatas pulau, menambah keunikan pulau, seolah saya tidak sabar ingin menjelajahi ujung Timur Indonesia itu, Surga kecil yang jatuh ke bumi. Sesampainya di bandara kami para mahasiswa inbound disambut oleh Pic, Dosen, LO, dan seluruh tim, dari UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG, kami disambut sangat meriah dengan nyanyian dan lagu menggunakan alat music tradisional, tidak lupa kami mengabadikan momen yaitu berphoto dan membuat video konten, setelah itu, kami diantar menggunakan tranportasi kampus langsung ke asrama untuk beristirahat sejenak, dan setelah sampai di asrama kami pun langsung beristirahat, untuk nantinya melanjutkan kegiatan open ceremony. Setelah kami beristirahat, kami melanjutkan kegiatan, yaitu kegiatan pembukaan, saya senang sekali akhirnya saya bertemu dengan teman-teman se Nusantara saya, dan bertemu dengan teman-teman kelompok saya, setelah mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, acara pun selesai dan kami pun bubar.

Seiring bergantinya hari kegiatan modul nusantara dan kegiatan perkuliahanpun dimulai,

Kami sangat bahagia mengikuti modul nusantara di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, yang dimana modul nusantaranya ada yang menggunakan perjalanan laut dan ada yang menggunakan perjalanan darat, adapun tempat modul nusantara kami yaitu, kami menjelajahi berbagai pulau, yaitu pulau Doom, pulau Arar, pulau UM, pulau Yerussel, dan berbagai pulau lainnya, adapun perjalanan darat kami yaitu mengunjungi kampung Warmon Kokoda, mengunjungi kampung Malaumkarta, mengunjungi Vihara Budha Jayanti, mengunjungi rumah etnik, mengunjungi, hutan sagu dan lain sebagainya, banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang sangat luar biasa dari perjalanan-perjalanan yang ku lalui selama menelusuri tanah Papua, aku bertemu dengan teman-teman se Nusantara, aku bertemu orang-orang baru, aku merasakan indahnya perbedaan, aku mencoba untuk menyesuaikan lingkungan dengan teman-temanku yang berbeda pulau, suku, ras, bahasa, dan agama, mencoba untuk saling memahami satu sama lain, dan aku juga mencoba menyesuaikan diri, dengan mahasiswa-mahasiswi asli Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, dan orang-orang pribumi papua, yang sangat-sangat berbeda denganku orang Sumatera Utara dari Medan, awalnya aku merasa takut, dan tidak berani berteman dan berinteraksi dengan mereka orang-orang pribumi papua, namun seiring bergulirnya waktu dan terus berproses, aku mulai membiasakan diri berinteraksi denga mereka dan hingga pada akhirnya akupun senang berteman dengan mereka, aku nyaman berteman dengan mereka, aku banyak sharing ang caring dengan mereka ngobrol mengenai tanah Papua,  obrolan kami begitu asik berbincang mengenai keindahan alam tanah papua, kemudian bercerita mengenai ramahnya orang-orang Papua, sejarah tentang Papua dan apa saja yang penting Papua.

Banyak sekali hal-hal baru yang ku temui saat menjalani hidup satu semester di ujung Timur Indonesia, aku sangat merasakan hidup yang berbeda saat saya di Medan, saya juga mendapatkan banyak sekali inspirasi dari mereka, para penduduk tanah Papua, yang membuat saya trus bertumbuh dan belajar bersama mereka, pengalaman yang tak akan pernah terlupakan, pelajaran hidup yang sangat luar biasa yang ku dapatkan dan ilmu yang tak ternilai harganya.

Pada suatu ketika, saat menjalani modul nusantara yaitu kontribusi sosial ke kampung Fafanlap, Distik Misool Selatan, Kabupaten Raja Ampat, saya melihat keadaan kampung yang sangat minim sekali, mulai dari air bersih yang belum tersalurkan ke rumah-rumah masyarakat, dan kami mengupayakan air bersih untuk bisa sampai ke rumah warga, kemudian listrik yang terbatas tidak ada 24 jam, hanya ada mulai dari jam 18:00 – 06:00     WIT, sarana dan prasarana, jaringan internet yang sulit diakses, dan juga aparatur dan perangkat desa yang belum terlatih, serta pendidikan yang belum memadai, saya sangat prihatin dan kampung Fafanlap sangat-sangat menarik perhatian saya membuka lebar mata dan telinga saya untuk melihat mereka lebih dalam dan mendengarkan mereka dengan saksama.

Namun walaupun masyarakat kampung Fafanlap, hidup dengan kesederhanaan dikampung tersebut, mereka hidup rukun dan damai, jauh dari kata perselisihan dan sengketa, masyarakat yang welcome bagi siapa saja orang asing yang datang ke wilayah mereka secara baik-baik dan merekapun siap menyambut dengan baik dan hangat, saya menemukan orang-orang baik di kampung itu, kampung yang sejuk, penuh kedamaian dan cerita scenario yang indah, kampung kecil dengan dibelakangnya bukit dan di depannya lautan dan kampung Fafanlap berada di tengah-tengah, yang membuatku berkeinginan untuk kembali lagi ke sana suatu hari nanti, di waktu terbaik yang sudah Allah tentukan.

Setelah selesai melaksanakan kontribusi sosial, kami memanfaatkan waktu dan sekaligus refreshing, yaitu destinasi wisata, seperti kami mengunjungi, Goa Kramat, Puncak Harfat, Balbulol, dan Puncak Love, sungguh destinasi wisata surga, ini yang dikatakan surga kecil yang jatuh ke bumi dan aku mengunjungi langsung surga itu dan melihat langsung keindahan surga itu dengan mata kepala ku, yang mungkin takkan bisa ku kunjungi kalau aku tidak ke tanah Papua, tanah Papua yang indah nikmat dan kuasa Allah terbentang. Setelah usai destinasi wisata, kami pun bertolak kembali ke Sorong, untuk keesokan harinya berkemas dan kembali ke kota masing-masing, meninggalkan jutaan kenangan indah di Tanah Papua.

Terimakasih yaa, Allah untuk nikmat dan karunia ini, terimakasih tanah Papua telah menjadi tempatku bertumbuh dan berproses, serta mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran tak ternilai harganya, banyak rindu yang sudah di tanam di Tanah Papua, dan saatnya untuk menuai rindu itu kembali ke pangkuan orang-orang tersayang, ayah, ibu dan keluarga, saudara-saudara serta sahabat-sahabat.

Ribuan pulau telah dilalui, ribuan puncak telah terdaki, dan pada akhirnya cerita ini usai, Pada 27-28 Desember kami pulang, senang sekali hal ini menjadi perjalanan impianku menuju surga kecil di Ujung Timur Indonesia, yang memberiku banyak pelajaran, mungkin kalau aku tidak berlabuh sampai ke ujung Timur Indonesia, mungkin aku tidak akan bertemu orang-orang hebat seperti mereka.

Cerita Suli Siahaan di Ujung Timur Indonesia……………………….

Terimakasi, dan sampai berlabuh lagi.

Senin, 04 Maret 2024

DI KAMPUS 1000 MIMPI

DI KAMPUS 1000 MIMPIπŸ’š

Kampusku saat ini Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, menjadi kampus yang kutaruh banyaknya mimpi didalamnya, penuh harap untuk bisa sampai di tujuan yaitu menyelesaikan studi tepat waktu, awal memulai cerita di kampus ini, mulai dari mendaftar, menginjakkan kaki untuk pertama kalinya, rasa takut, deg-degan dan tidak percaya diri serta ragu untuk bisa sampai pada penyelesaian study, dan menyandang serta membawa pulang gelar sarjana.

πŸ’™

Awal mulai kuliah dari berbasis online hingga kuliah offline (tatap muka) langsung ke kampus, mengikuti kegiatan dan organisasi, menemukan hal baru yang tidak pernah kutemui sejak di bangku sekolah dan dikampung halaman, bertemu dengan orang-orang baru, yang membuatku sulit untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka saat itu, 

πŸ’›

semester 1 sampai semester 3, aku menjalani kuliah online, dengan berbagai tugas yang diberikan dosen, menjalani UTS dan UAS secara online, hingga aku  bisa menabung dari uang BEASISWA KIP ku, karena kuliah masih berbasis online kala itu, dan bisa membeli laptop dari hasil tabungan ku sendiri, tanpa meminta sepeserpun dari orang tua, puji syukur ku pada Allah yang telah merancang indah skenario pendidikan ku, dan aku juga bisa membantu ibuku berjualan sekaligus kuliah online, , pintaku sebelum pada Allah untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun tetap masih bisa bersama ibu. 

πŸ’œ

seiring berjalannnya waktu, keadaan dunia sudah mulai memulih bencana krisis kemanusiaan, yaitu covid -19, maka kuliah tatap mukapun diberlakukan kembali setelah menjalani 3 semester kuliah online, tibalah saatnya benar-benar merasakan dunia perkuliahan yang sesungguhnya, dan berangkat dari kampung halaman menuju kota rantau, jauh dari ibu, jauh dari keluarga, jauh dari sanak saudara, jauh dari teman- teman, hidup asing di ibu kota, merasakan sedih dalam kesepian, hingga sampai akhirnya bertemu dengan orang-orang baru yang menginspirasi dan menggoreskan luka.

πŸ’ͺ

Mulai dari semester 4, 5, dan 6 kuliah tatap muka, setiap hari bertemu dengan dosen-dosen yang mengajar di kelas, teman-teman yang berbeda domisili, ada yang juga anak rantau sepertiku, dan ada yang asli orang medan, pertemanan yang kurasakan dan yang kujalani di perantauan ini sangat berbeda dengan pertemanan yang kurasakan di kampung halaman ku, dan ini yang membuatku sulit untuk berinteraksi dan sulit untuk menyesuaikan diri pada lingkunganku, namun dibalik semua itu aku tetap bertahan, mengingat aku punya banyak mimpi dan harapan dikampus ini untuk kubawa pulang ke kampung halaman. 

πŸ‘

Alhamdulillah, satu semester di semester 7, aku menjalani perkuliahan di wilayah Timur Indonesia, yaitu provinsi Papua Barat Daya, kota Sorong, satu semester lamanya aku berkuliah disana, dalam rangka mengikuti program pertukaran mahasiswa merdeka batch 3, yang membuatku bertemu dengan orang-orang baru dari seluruh Nusantara, memupuk banyak pengalaman menelusuri tanah Papua, melewati berbagai pulau, dan mendaki puncak, sungguh suatu pengalaman yang sangat bernilai, bisa sampai ke ujung Timur Indonesia, jauh dari medan, rindu dengan medan dan orang-orang di medan, rindu dengan kampusku, hal yang kurasakan saat berada disana, memupuk rindu hingga pada akhirnya di tuai saat kembali, perjalanan satu semesterku, penuh pengalaman sekaligus pelajaran, yang membuatku sabar tanpa tapi dan ikhlas tanpa tepi, walau harus pergi meninggalkan kota medan dengan membawa luka pada saat itu, tapi aku bahagia bisa mengarungi tanah Papua dengan Ilmu.

πŸ’—

Usai melewati satu semester di tanah Papua, dan banyak cerita yang menghiasi perjalanan satu semesterku, aku kembali ke kota medan tempat ku pertama kali mengukir cerita rantauku, di semester 8, aku sibuk dengan segala penyelesaian untuk menyelesaikan study, mulai dari mengurus berkas SK, menyelesaikan proposal skripsi, mengurus berkas sidang dan menyelesaikan skripsi sebelum sidang, serta banyak-banyak mencari referensi untuk skripsi, dan menambah ilmu dengan menjadi manusia aktif, produktif dan sibuk yang bermanfaat dan berpahala, dan di kampus aku banyak menghabiskan waktu untuk lebih produktif, mencari hal baru, searching, meningkatkan skill, dan menambah skill, karena aku yakin aku pasti akan menemukan jalan menuju masa depan ku selanjutnya setelah studyku selesai, lewat berbagai informasi dan hal baru yang ku temui, berusaha mencari, dan menggali pengetahuan sendiri, lewat berbagai sosial media, serta kreatif dalam menciptakan hal baru. 

πŸ‘½

Tentunya dikampus 1000 mimpi ini ku ukir mimpi itu, dari kecil secara perlahan, serta penuh proses, walau prosesku dipenuhi luka dan air mata untuk meraihnya, walau semua prosesnya tidak mudah tapi aku yakin hasilnya akan indah, sekali lagi dengan ridho orang tua dan Allah, aku menelusuri ranah impianku, dan terimakasih untuk orang-orang yang datang dan pergi dalam hidupku, serta banyaknya pelajaran hidup yang membuatku tegar menghadapi ujian dan tantangan, 

😁

AKU DAN 1000 MIMPIKU DI KAMPUS INI SEBAGIAN TELAH TERWUJUD, dan masih banyak lagi yang harus ku wujudkan, semuanya memang mimpi, tapi mimpi yang akan menjadi nyata, orang yang sedikit tidur namun punya banyak mimpi, banyaklah bermimpi, tapi setelah itu bangun dan wujudkan mimpi ituπŸ’ž


Suli Siahaan_...............



Sabtu, 03 Februari 2024

MENGADU NASIB SERTA PENUH HARAPAN DI NEGERI JIRAN

 


Assalamu'alaikum Wr.Wb

Apa kabar remaja seluruh Indonesia, terutama di kampung halaman ku, di kelurahan Pangkalan Dodek Baru, kecamatan Medang Deras, masihkah semangat wahai para pejuang rupiah, dan jangan berputus asa bagi pencari pekerja demi pundi-pundi rupiah, untuk menyambung kehidupan dan hidup lebih sejahtera dari sebelumnya, walau aku, kalian dan kita semua tidak bisa mengandalkan pemerintah untuk bisa memberikan kita pundi-pundi rupiah tuk meraih kesejahteraan itu. 

Terlahir dari keluarga sederhana bahkan pernah kekurangan tentang kesejahteraan, apabila kita membahas tentang kesejahteraan sosial, perspektif kita mengacu pada, terpenuhinya kebutuhan primer, sandang, pangan dan papan, namun bukan hanya sekedar kebutuhan primer saja banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, dan kebutuhan itu tidak semua didapatkan  masyarakat, contohnya saja, pendidikan yang layak, pendidikan sampai perguruan tinggi, kesehatan dan berobat gratis, lapangan pekerjaan bagi para pengangguran yang tak kunjung dipertemukan dengan pekerjaannya.  

Nahhhh,,, inilah yang membuat mereka setelah usai menempuh pendidikan SLTA, atau mereka tidak menamatkan sekolah mereka, kemudian, MENGADU NASIB DAN PENUH HARAPAN DI NEGERI JIRAN. 


Namun apakah dengan meraih banyak uang bisa sejahtera tentu saja tidak, tapi untuk bisa sejahtera butuh banyak uang, ceritanya kita jadi bahas uang dan sejahtera ya, 

Menempuh pendidikan 9 tahun lamanya, setelah usai menempuh pendidikan, ada tanggungjawab yang mulai dipikul dan semakin hari semakin bertambah, ada raga dan tubuh yang tak lagi kuat, untuk memberikan kebahagian, bahkan untuk memberikan sesuap nasipun mungkin saja tidak mampu, ya,, pada hakikatnya seiring berjalannya waktu, bergantinya tahun, usia mulai berkurang dan semakin rapuh, dan pemilik raga dan tubuh itu adalah kedua orang tua, 


cerita remaja kali ini berbeda-beda akan aku jelaskan satu persatu :

1. Ada seorang remaja yang telah menyelesaikan pendidikannya selama 9 tahun dan setelah usai, ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, dikarenakan keterbatasan biaya, dan kedua orang tua tidak mampu membiayainya, mengingat biaya kuliah mahal bahkan melambung tinggi, yang membuat asa itu putus, bahkan untuk mendapatkan beasiswapun tidak bisa, kedua orang tua hanya bekerja dengan penghasilan sangat minim, namun remaja tersebut punya harapan untuk mengadu nasib di NEGERI JIRAN sebagai Tenaga Kerja Indonesia untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. 

2. Cerita remaja yang kedua, ada seorang remaja yang telah usai, menyelesaikan sekolahnya di bangku SLTA, ia sangat ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan bahkan beasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggipun banyak sekali pada masa itu, mulai dari beasiswa KIP, BAZNAS, LAZISMU, BEASISWA UNGGULAN berbagai macam ragam, namun apalah daya dari keluarga tidak ada yang mendukung, ayah dan ibunya mengatakan "untuk apa kuliah, lihatlah banyak para sarjana pengangguran di luarsana, dan banyak para sarjana yang kerjanya serabutan, dan tidak sesuai dengan tamatan mereka.", terakhir dari pada menganggur dan jadi pengangguran lebih baik mengadu nasib di Negeri Jiran, untuk memenuhi kebutuhan hidup selanjutnya, dan tidak lagi berpangku tangan pada kedua orang tua. 

3. Selanjutnya, ada remaja yang ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, ia bisa berkuliah mengandalakan beasiswa, namun bagaimana mungkin ia merantau dan kuliah di ibu kota, lalu siapa yang menjaga ibunya, menemani ibunya, membantu ibunya, melihat semua kakak-kakaknya sudah punya kehidupan masing-masing, dan usia ibunya tidak lagi kuat untuk bekerja sendirian, lalu bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan ibunya, merantau kuliah ke ibu kota, siapa yang akan membiayai kebutuhan hidup ibunya jika ia berkuliah?, apakah dengan uang beasiswa bisa memenuhi kebutuhan hidup si remaja ini dan ibunya, pada akhirnya Beasiswa saja tidak cukup untuk mensejahterakan kehidupan sosial dan pendidikan, beasiswa bukan segalanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sangat mahal di perantauan, masih ada kurang didalamnya, siapa lagi yang mau diandalkan jika orang tuapun tidak bisa diandalkan, hal inilah yang membuat remaja ini untuk pergi ke Negeri Jiran agar ibunya tidak lagi bekerja, dan ia bisa mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup ibunya, sepenuhnya, tanpa harus berpikir setelah uang bulanan habis dan uang beasiswa belum cair, mau minta ke siapa?, perihal ibu ia akan menitipkan ke kakaknya, dan mengirim uang bulanan untuk ibunya.

Ada banyak cerita lagi selain cerita remaja diatas, beragam macam, keinginan mereka ingin mengadukan nasib ke negeri jiran, untuk memenuhi kebutuhan hidup, mensejahterakan keluarga, melihat sulitnya lapangan pekerjaan di negeri sendiri, yang mengharuskan mereka merantau ke negeri Jiran, melihat sedikitnya pendapatan upah/gaji, yang tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup di negeri sendiri, mengingat naiknya harga sembako yang melambungkan tinggi membuat tidak punya pilihan selain pergi mencari kerja ke negeri orang.


Namun setelah sampai di negeri Jiran, hidup aman dan damai tidak sepenuhnya didapatkan, banyak dari mereka yang kesusahan disana, mulai dari circle dunia kerja, atasan yang kurang baik, egoisme, kehabisan visa/paspor, di penjara, di hukum, lalu bagaimana nasib warga dan rakyat Indonesia di negeri sendiri, dan di negeri orang? Wahai para penguasa, petinggi negara, dan pejabat, tidakkah kalian memikirkan hal ini?

SALAM PERJUANGAN BAGI ANAK NEGERI YANG SEDANG BERJUANG DI NEGERI ORANG, APAPUN YANG KALIAN LAKUKAN, BAIK BEKERJA DAN KULIAH, TETAPLAH KEMBALI KE NEGERI IBU PERTIWI, WALAU PENUH LUKA DAN DERAI AIR MATA HIDUP DI NEGERI SENDIRI, JANGAN BIARKAN NEGERI KITA DI KUASAI PARA PENJAHAT BERDASI, INGAT LAGI PERJUANGAN PARA PAHLAWAN KITA YANG MEMERDEKAN INDNESIA.

Jumat, 02 Februari 2024

 Assalamu'alaikum Wr.Wb. Alhamdulillahhi bini'mati tatimusshalihat, wa alhamdulillahi a'la kulli hallin. shalawat dan salam terc...