CERITA PENGALAMAN PMM 3 DI UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG
(
Tentang Aku, Kamu, Kita dan Tanah Papua)
Oleh
: Suli Siahaan
Mahasiswa
Program Studi Kesejahteraan Sosial, FISIP UMSU
Hayyy,
Perkenalkan aku “Suli Anggriani Siahaan”, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara, Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik, aku bersyukur kepada Allah
karena untuk semester 7 di 2023 kemarin Allah izinkan aku untuk eksplor tanah
Papua, dengan mengikuti program kampus merdeka yaitu, Pertukaran Mahasiswa
Merdeka, yang dahulunya mimpiku tertunda untuk bisa mengikuti PMM 2, tahun 2022
di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, karena aku tidak lolos, aku sangat
sedih sekali saat itu, melihat temanku lolos dan aku tidak, aku merasa hidup
ini tidak adil, tapi aku tetap percaya bahwa rencana Allah jauh lebih baik dari
rencana ku, aku tak putus asa aku terus berusaha dan yakin pada Allah bahwa
kesempatan akan senantiasa hadir bagi orang-orang yang gigih dalam
memperjuangkan, dan untuk semester depannya di 2023 aku mencoba lagi untuk
mengikuti program tersebut dan Alhamdulillah, aku lolos di Universitas
Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Papua Barat Daya, aku senang sekali dan inilah
bukti bahwa Allah maha tahu atas segala sesuatu dan apa yang ada di sisi Allah
jauh lebih baik.
Memulai
pengalaman dan memupuk banyak cerita di Ujung Timur Indonesia, awalnya melihat
teman mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa, dan mengeksplor banyak tempat
bersejarah di Nusantara, dari Sabang sampai Marauke membuat saya pun tertarik
untuk mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa tersebut, mulailah saya mendafatar
akun MBKM, dan untuk mendaftarnya lumayan sulit, karena banyak yang harus diisi
dan saya pun belum begitu paham, saya terus berusaha dengan gigih demi
mewujudkan mimpi saya untuk berkelana dan menjelajahi Indonesia, dan impian
besar saya saat itu ialah untuk terbang ke angkasa naik pesawat terbang, karena
sebelum saya menduduki bangku kuliah saya sangat ingin merasakan bagaimana
terbang naik pesawat, setiap kali saya melihat pesawat terbang yang melintas di
langit biru, saya berucap bahwa “ Semoga suatu hari nanti saya bisa terbang
naik pesawat”, melihat keindahan alam dari angkasa, dan itu saya tanamkan
dengan sungguh-sungguh dan saya niatkan untuk meraih cita-cita dan mewujudkan
mimpi-mimpi saya. Hingga pada akhirnya, Allah takdirkan saya untuk menjadi
bagian dari kampus terbaik swasta di kota Medan yaitu, Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara, dan takdir ini membuatku bersyukur dan bahagia, lanjut cerita
mengenai Program Pertukaran Mahasiswa, setelah berusaha dengan gigih dalam
mendaftar, semua berkas telah di upload, dan Alhamdulillah melaju ke tahap
selanjutnya, setelah tahap-demi tahap dilewati, tibalah saat yang sangat
ditunggu-tunggu doa-doa terus ku langitkan tiada henti, berharap dapat kabar
bahagia dari kabar pengumuman tersebut, hingga pada akhirnya, pengumuman
tersebut di umumkan,dan ketika aku melihat di akun/ di laman PMM ku ternyata
aku tidak lolos, saat itu juga aku kecewa, harapanku hancur, mimpiku tak
terwujud aku menangis pilu sejadi-jadinya, dan merasa sesakit itu menerima
kabar tidak lolos, seolah itu kabar terburuk yang pernah tersampaikan padaku, seiring
bergulirnya waktu, hari-hari berganti, aku coba tuk menguatkan diriku, dan
menerima kenyataan, dan tiada hentinya berharap bahwa pasti akan ada kesempatan
dilain waktu bagi orang-orang yang senantiasa memperjuangkan.
Setelah
gagal PMM 2 disemester 5, aku coba untuk mencoba lagi PMM 3 di semester 7, aku
berusaha lagi, dengan penuh keyakinan dan izin orang tua aku berharap bisa
lolos, aku berusaha lagi, mengisi data, membuat akun, mengurus segala berkas,
kemudian mengupload berkas, tahap-demi tahap kulewati, membumikan usaha dan
terus melangitkan doa tiada henti, semoga untuk kali ini Allah ijabah do’aku,
aku memilih kampus yang sama seperti tempat pertama kali mendaftar PMM, yaitu,
UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG, PAPUA BARAT DAYA, saya memilih di Papua karena saya ingin,
mengeksplor indahnya tanah Papua, dan ke Raja Ampat, dan ke Puncak Love, sebelum pengumuman ke
lolosan di umumkan, aku selalu mengecek instagram resmi Pertukaran Merdeka,
agar tidak ketinggalan informasi. Setelah sabar menanti perihal pengumuman
akhirnya tibalah saatnya pengumuman tersebut di umumkan, pada saat saya ingin
melihat hasil pengumuman saya lolos atau tidak, akun saya sulit sekali untuk di
buka, saya sangat khawatair, saya takut saya tidak lolos untuk kedua kalinya,
saya mencoba memita bantuan kepada teman-teman saya Mahasiswa UMSU yang juga
lolos di UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG, dan Alahamdulillah setelah
akun saya di buka olehnya, tertera tulisan bahwa saya “LOLOS”, saya langsung
tersungkur bersujud syukur, saya sangat bahagia, dan untuk memastikan lagi saya
mencoba untuk membuka akun saya sendiri di Android saya, dan informasinya
benar, Bahwa saya benar-benar “LOLOS, tiada henti-hentinya saya bersyukur
kepada Allah atas kabar gembira itu, ternyata Allah izinkan saya di semester 7
untuk mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa itu, bukan di Semester 5, yang
dimana saya mengikuti PMM 3 ini saya sudah menyelesaikan SKS saya, dan ketika
pulang dari Program tersebut, saya tidak mengikuti perkuliahan lagi karena saya
sudah selesai menempuh semua SKS, inilah yang dikatakan bahwa “TAKDIR ALLAH DAN
APA YANG IA KEHENDAKI PASTI TERLAKASANA”, DAN APA YANG ADA DISISI ALLAH JAUH
LEBIH BAIK.
Pada
tanggal 29 Agustus 2023 saya pun berangkat meninggalkan kota Medan dan Pergi ke
kota Sorong, untuk menjalani program, dari bandara Kwalanamu medan menuju
bandara Sekarno Hatta Jakarta, setelah transit di Jakarta, kemudian sampailah
di Bandara DEO Sorong, sebelum sampai di Sorong Papua, saya melihat pemandangan
dari atas sangat indah sekali tanah Papua, pulau-pulau yang airnya jernih dan
berwarna indah, ditambah dengan tumbuh-tumbuhan dan bebatuan yang tumbuh dan
berdiri diatas pulau, menambah keunikan pulau, seolah saya tidak sabar ingin
menjelajahi ujung Timur Indonesia itu, Surga kecil yang jatuh ke bumi. Sesampainya
di bandara kami para mahasiswa inbound disambut oleh Pic, Dosen, LO, dan
seluruh tim, dari UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG, kami disambut sangat
meriah dengan nyanyian dan lagu menggunakan alat music tradisional, tidak lupa
kami mengabadikan momen yaitu berphoto dan membuat video konten, setelah itu,
kami diantar menggunakan tranportasi kampus langsung ke asrama untuk
beristirahat sejenak, dan setelah sampai di asrama kami pun langsung
beristirahat, untuk nantinya melanjutkan kegiatan open ceremony. Setelah kami
beristirahat, kami melanjutkan kegiatan, yaitu kegiatan pembukaan, saya senang
sekali akhirnya saya bertemu dengan teman-teman se Nusantara saya, dan bertemu
dengan teman-teman kelompok saya, setelah mengikuti berbagai rangkaian
kegiatan, acara pun selesai dan kami pun bubar.
Seiring
bergantinya hari kegiatan modul nusantara dan kegiatan perkuliahanpun dimulai,
Kami
sangat bahagia mengikuti modul nusantara di Universitas Pendidikan Muhammadiyah
Sorong, yang dimana modul nusantaranya ada yang menggunakan perjalanan laut dan
ada yang menggunakan perjalanan darat, adapun tempat modul nusantara kami
yaitu, kami menjelajahi berbagai pulau, yaitu pulau Doom, pulau Arar, pulau UM,
pulau Yerussel, dan berbagai pulau lainnya, adapun perjalanan darat kami yaitu
mengunjungi kampung Warmon Kokoda, mengunjungi kampung Malaumkarta, mengunjungi
Vihara Budha Jayanti, mengunjungi rumah etnik, mengunjungi, hutan sagu dan lain
sebagainya, banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang sangat luar biasa dari
perjalanan-perjalanan yang ku lalui selama menelusuri tanah Papua, aku bertemu
dengan teman-teman se Nusantara, aku bertemu orang-orang baru, aku merasakan
indahnya perbedaan, aku mencoba untuk menyesuaikan lingkungan dengan
teman-temanku yang berbeda pulau, suku, ras, bahasa, dan agama, mencoba untuk
saling memahami satu sama lain, dan aku juga mencoba menyesuaikan diri, dengan
mahasiswa-mahasiswi asli Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, dan
orang-orang pribumi papua, yang sangat-sangat berbeda denganku orang Sumatera
Utara dari Medan, awalnya aku merasa takut, dan tidak berani berteman dan
berinteraksi dengan mereka orang-orang pribumi papua, namun seiring bergulirnya
waktu dan terus berproses, aku mulai membiasakan diri berinteraksi denga mereka
dan hingga pada akhirnya akupun senang berteman dengan mereka, aku nyaman
berteman dengan mereka, aku banyak sharing ang caring dengan mereka ngobrol
mengenai tanah Papua, obrolan kami
begitu asik berbincang mengenai keindahan alam tanah papua, kemudian bercerita
mengenai ramahnya orang-orang Papua, sejarah tentang Papua dan apa saja yang
penting Papua.
Banyak
sekali hal-hal baru yang ku temui saat menjalani hidup satu semester di ujung
Timur Indonesia, aku sangat merasakan hidup yang berbeda saat saya di Medan,
saya juga mendapatkan banyak sekali inspirasi dari mereka, para penduduk tanah
Papua, yang membuat saya trus bertumbuh dan belajar bersama mereka, pengalaman
yang tak akan pernah terlupakan, pelajaran hidup yang sangat luar biasa yang ku
dapatkan dan ilmu yang tak ternilai harganya.
Pada
suatu ketika, saat menjalani modul nusantara yaitu kontribusi sosial ke kampung
Fafanlap, Distik Misool Selatan, Kabupaten Raja Ampat, saya melihat keadaan
kampung yang sangat minim sekali, mulai dari air bersih yang belum tersalurkan
ke rumah-rumah masyarakat, dan kami mengupayakan air bersih untuk bisa sampai
ke rumah warga, kemudian listrik yang terbatas tidak ada 24 jam, hanya ada
mulai dari jam 18:00 – 06:00 WIT,
sarana dan prasarana, jaringan internet yang sulit diakses, dan juga aparatur
dan perangkat desa yang belum terlatih, serta pendidikan yang belum memadai,
saya sangat prihatin dan kampung Fafanlap sangat-sangat menarik perhatian saya
membuka lebar mata dan telinga saya untuk melihat mereka lebih dalam dan
mendengarkan mereka dengan saksama.
Namun
walaupun masyarakat kampung Fafanlap, hidup dengan kesederhanaan dikampung
tersebut, mereka hidup rukun dan damai, jauh dari kata perselisihan dan
sengketa, masyarakat yang welcome bagi siapa saja orang asing yang datang ke
wilayah mereka secara baik-baik dan merekapun siap menyambut dengan baik dan
hangat, saya menemukan orang-orang baik di kampung itu, kampung yang sejuk, penuh kedamaian dan cerita scenario yang
indah, kampung kecil dengan dibelakangnya bukit dan di depannya lautan dan
kampung Fafanlap berada di tengah-tengah, yang membuatku berkeinginan untuk
kembali lagi ke sana suatu hari nanti, di waktu terbaik yang sudah Allah
tentukan.
Setelah
selesai melaksanakan kontribusi sosial, kami memanfaatkan waktu dan sekaligus
refreshing, yaitu destinasi wisata, seperti kami mengunjungi, Goa Kramat,
Puncak Harfat, Balbulol, dan Puncak Love, sungguh destinasi wisata surga, ini
yang dikatakan surga kecil yang jatuh ke bumi dan aku mengunjungi langsung
surga itu dan melihat langsung keindahan surga itu dengan mata kepala ku, yang
mungkin takkan bisa ku kunjungi kalau aku tidak ke tanah Papua, tanah Papua
yang indah nikmat dan kuasa Allah terbentang. Setelah usai destinasi wisata,
kami pun bertolak kembali ke Sorong, untuk keesokan harinya berkemas dan kembali
ke kota masing-masing, meninggalkan jutaan kenangan indah di Tanah Papua.
Terimakasih
yaa, Allah untuk nikmat dan karunia ini, terimakasih tanah Papua telah menjadi
tempatku bertumbuh dan berproses, serta mendapatkan banyak pengalaman dan
pelajaran tak ternilai harganya, banyak rindu yang sudah di tanam di Tanah
Papua, dan saatnya untuk menuai rindu itu kembali ke pangkuan orang-orang
tersayang, ayah, ibu dan keluarga, saudara-saudara serta sahabat-sahabat.
Ribuan
pulau telah dilalui, ribuan puncak telah terdaki, dan pada akhirnya cerita ini
usai, Pada 27-28 Desember kami pulang, senang sekali hal ini menjadi perjalanan impianku
menuju surga kecil di Ujung Timur Indonesia, yang memberiku banyak pelajaran,
mungkin kalau aku tidak berlabuh sampai ke ujung Timur Indonesia, mungkin aku
tidak akan bertemu orang-orang hebat seperti mereka.
Cerita
Suli Siahaan di Ujung Timur Indonesia……………………….
Terimakasi,
dan sampai berlabuh lagi.
