Senin, 27 Mei 2024

Langkah Kecil Menuju Cita-Cita Besar



Langkah Kecil Menuju Cita-Cita Besar

Oleh : Suli Siahaan

Email : suli.siahaan1012@gmail.com

Instagram : suli.siahaan_1001

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Hayy….perkenalkan aku Suli Anggriani Siahaan, aku terlahir dari keluarga sederhana, memiliki banyak kekurangan, dan keterbatasan, dari seorang ibu pedagang dan ayah tukang tambal ban dan aku tidak pernah, bahkan sering  mengeluh  dengan status sosialku, namun dengan aku mengeluh tidak akan merubah status sosialku, dengan kuat hati aku harus sabar dan ikhlas menerima, karena aku dididik untuk menjadi perempuan yang kuat dalam menghadapi hidup yang seperti roda berputar.

Aku lahir di 10 Desember 2001, di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Batu Bara, di Kelurahan Pangkalan Dodek, disebuah perkampungan, di gang kecil dan sempit juga kumuh, hidup berdampingan dengan tumpukan sampah dan rumahku yang dekat dengan got saluran pembuangan, iya itu tempat tinggalku, itu tanah kelahiranku, di tempat itu aku lahir, aku hidup, aku tumbuh, aku bermain bersama teman-teman , aku bahagia, aku menangis, aku terjatuh dan aku bangkit, aku mengenyam pendidikan, tempatku belajar, mencari sesuap nasi, tempatku berbagi ilmu, dan kalian tau tanah kelahiranku adalah tempat aku melewati berbagai tamparan hidup yang membuat pipiku merah, biru lebam untuk kuat menghadapi kenyatan hidup yang begitu keras, hingga aku kebal dan terbiasa menerimanya, agar tidak menjadi perempuan yang cengeng dan mudah berputus asa lalu dengan mudah mengakhiri hidup karena tidak mampu menghadapi kenyataan hidup.


Iya itu aku, dari kecil hidupku memang dihiasi dengan berbagai ujian yang menyapa, hadir lalu singgah kemudian pergi, aku sempat berpikir bodoh karena ingin bunuh diri, namun hal itu hanya niat dan tidak terealisasikan, karena saat itu aku masih kecil, masih remaja pikiran ku masih labil, tidak ada yang memberikan aku dukungan dan bantuan saat aku sendiri terluka, saat aku sendiri menangis, luka dan air mata itu ku tutup rapat tanpa ada celah sedikitpun agar tidak ada satu orang pun yang tau termasuk ayah dan ibuku.

Seiring berjalannya waktu aku menginjak usia remaja dan mulai dewasa serta bertambah mengerti tentang banyak hal yang tejadi dalam hidupku, ketika usia ku beranjak 17 tahun ayahku meninggal dunia, hal yang sangat pilu dan menyedihkan kehilangan ayah yang telah pergi untuk selamanya, kembali kepada Allah dan apapun kenangan yang sudah dilalui bersama ayah hanya menjadi kenangan dan akan selalu abadi dalam ingatan, aku, ibuku, kedua kakak ku, dan adikku akan terus melanjutkan hidup tanpa ayah lagi.


Terimakasih 17 tahun telah berlalu, masih sangat jernih ingatan-ingatan tentang segala hal-hal yang terjadi di masa lalu, di usiaku  yang ke- 19 tahun Alhamdulillah Allah izinkan aku untuk bisa melanjutkan pendidikan tinggi, di ibu kota Sumatera Utara, Medan, Allah menyelamatkanku dari kata “Setelah lulus sekolah jadi pengangguran” iya “pengangguran” kata dan sesuatu hal yang aku tak berani untuk mendekati itu, pernah terfikir setelah lulus SLTA, aku ingin bekerja menjadi cleaning service agar aku tidak menjadi pengangguran, dan punya penghasilan, di benakku satu “kerja apa saja yang penting halal”.

Namun Allah berkehendak lain, ternyata benar Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya, yang dahulunya setelah lulus dari sekolah SLTP aku ingin masuk SMK di luar kota, dan MAN di Kota Medan, namun Allah berkehendak lain aku masuk di sekolah Madrasah di daerah tempat tinggalku juga, dan aku tidak menyangka setelah lulus dari Madrasah Aliyah itu, aku bisa kuliah di kampus Unggul, terbaik di Pulau Sumatera yang dengan izin Allah akan menjembataniku menuju mimpi-mipi besar ku.

Bismillahirrahmanirrahim disinilah perjalanan Impian itu di mulai, di bulan Oktober di tahun 2020 aku resmi berstatus sebagai mahasiswa di UMSU, dan akan menjalani perkuliahan selama kurang lebih 8 semester, ya aku tidak tau apakah aku akan kuat dan istiqamah menjalani perkuliahan 4 tahun kurang lebih, khawatir dan rasa takut akan ketidak pastian diri, membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Walau pada saat itu adalah masa-masa covid-19, yang Alhamdulillah selama 4 semester kurang lebih perkuliahan daring, namun segala kegiatan organisasi tetap berjalan luring, yang mengharuskanku ke kota Medan, awal perkuliahan begitu campur aduk, rasa takut akan ketidaktahuan, tidak mampu beradaptasi dengan mereka yang berbeda denganku, merasa diri belum cukup ilmu untuk menduduki bangku perkuliahan,.


Namun rasa bahagia telah menjadi mahasiswa, berkuliah dikampus terbaik, serasa mampu membuktikan pada dunia, bahwa aku bukanlah sosok yang lemah, tidak berdaya dan tidak mampu merantau, menemukan hal baru saat menjadi mahasiswa, belajar percaya diri, menambah skill publick speaking, sungguh tak ku sangka ucapanku kala itu di aminkan oleh malaikat, yang dimana guruku pernah bertanya saat aku masih duduk dibangku kelas XII-IPS, “ Suli, setelah lulus SMA kamana kamu akan melanjutkan perjalanan? Tanya beliau, aku menjawab, saya akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Ibu Kota Sumatera Utara. Yang aku tak menyangka ucapanku yang ini yang di aminkan malaikat, aku juga pernah berucap kemana temanku bahwa setelah lulus SMA nanti aku ingin menjadi cleaning service, namun itu bukanlah ucapan yang baik, dan bukan ucapan itu yang baik untukku, dan, ya, pada akhirnya hidup ini adalah atas keinginan Allah, dan apa yang diberikan Allah itulah yang terbaik.


Aku tak menyangka doa ku, doa ibuku membawaku sampai sejauh ini, aku pernah berdoa untuk Allah pilihkan menjadi salah satu penerima KIP-Kuliah itu, dan Allah ijabah dan ridhoi hingga sampailah perjalananku sejauh ini,.

Aku juga pernah minta ke Allah untuk bisa beli laptop, untuk menulis cerita, dan minta hp Android dan dengan izin Allah apa yang kumiliki sekarang adalah permintaanku yang dahulunya pernah aku minta ke Allah lewat do’a., dan sekarang aku ingin minta pekerjaan yang sesuai dengan lulusanku, pekerjaan yang baik, dan halal serta mapan, aku ingin minta ini ke Allah semoga suatu hari Allah kabulkan.

Dimulai 2020 hingga 2024 memulai perjalanan diperantauan, dimulai dari langkah kecil, menapaki kaki di kota metropolitan, rasa takut akan kasus-kasus criminal yang terjadi, merasakan hidup di kota besar dengan berbagai kriteria dan karakter manusia yang baik maupun tidak baik, mencoba memberanikan diri, meredam rasa takut, walau sebenarnya ingin kembali saja ke kampung halaman.

Hingga pada akhirnya, rasa takut itu sirna, perlahan sudah mulai berani hidup asing di kota besar, menjelajahi berbagai tempat di kota Medan, bahkan tempat yang pernah terjadi kasus criminal, ya, tentu saja bahwa tidak akan ada cerita jika tidak berani memulai, bagaimana untuk menuju jalan sukses itu jika tidak berani untuk melangkah kan kaki dari langkah kecil.

Selesai, sudah 4 tahun kurang lebih aku berkuliah di kampus unggul dan terbaik itu, status mahasiswa sudah tidak lagi kusandang, dan aku resmi menjadi alumni di kampus itu, perjalanan lika-liku selama 4 tahun kurang lebih, membuat tangis ku tiada henti saat kata alumni ku sandang.


Betapa bahagianya aku selama 4 tahun kurang lebih perjalananku dibersamai oleh Allah, di kuatkan oleh doa-doa ibuku, yang membawaku pada pertolongan dan perlindungan Allah, Teriknya sinar mentari hampir membakar tubuh, namun tetap kuat dikarenakan asa dan cita-cita lebih membara dalam diri, dinginnya hujan yang membasahi tubuh, tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan menyelesaikan studi, badai dan ombak yang menerjang saat berada di tengah laut pada malam hari gelap gulita tiada siapa-siapa hanya ditemani rintikan hujan dan hembusan angin serta cahaya yang kian meredup, semua pernah ku lalui demi aku ingin “ayah dan ibuku bangga memiliki anak sepertiku, suli anggriani siahaan”…


 

 

 

Senin, 06 Mei 2024

Menempuh 1.279 Episode

 

Menempuh 1.279 Episode

Oleh : Suli Siahaan

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb, …..

Bapak terimakasih telah memberikan kemudahan kepada suli dalam meraih gelar ini, terimakasih sudah membimbing suli, terimakasih bapak selalu memberikan waktu bapak untuk suli ditengah-tengah padatnya jadwal bapak, dan lelahnya hari-hari bapak,

Bapak maaf ya, jika suli banyak gak taunya, maaf ya pak jika suli banyak bertanya, dan maaf-beribu maaf ya pak untuk semuanya jika suli ada salah, suli minta keridhoan bapak atas ilmu yang telah bapak ajarkan kepada suli, agar ilmu ini menjadi berkah dan mampu suli amalkan, izinkan suli menjadi bayang-bayang bapak untuk turut serta menyebarkan ilmu ini, diatas bumi Allah untuk pertanggungjawaban dihadapan Allah nanti di hari kiamat,


1.279 episode dalam drama nyata perkuliahan sudah suli perankan sebaik mungkin, dari awal memasuki perkuliahan di Oktober 2020 hingga saat ini mampu menyelesaikan studi, dengan sabar tanpa tapi dan ikhlas tanpa tepi, penuh darah dan air mata, pada akhirnya di tanggal 08 Mei 2024 Gelar Sarjana Sosial itu berhasil suli raih serta mendapatkan predikat pujian dengan nilai 3,87.

     Menempuh 1.279 Episode bagi suli tidaklah mudah, ada peran yang menguras fisik dan mental, ada bagian-bagian yang sulit diselesaikan satu hari juga hingga harus bersambung esoknya lagi, di Episode yang mencapai ribuan ini membuat suli mengetahui banyak rasa, karena suli memerankan drama ini di Ibu Kota Sumatera Utara dan berperan sebagai Mahasiswa perantau, Jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan tau rasanya berkuliah di kampus terbaik dan unggul, Jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan tau rasanya mereguk dalamnya sumur ilmu pengetahuan di bangku kuliah,  jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan merasakan asyiknya belajar mata kuliah yang bapak ajarkan beserta bapak dan ibu dosen yang lain, jika tidak menjadi mahasiswa suli tidak akan merasakan indahnya lelah yang berakhir lillah karena berbagai kegiatan organisasi yang menambah wawasan dan pengetahuan suli, jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan merasakan bahagianya berkeliling kampus umsu dan menikmati pemandangan dari lantai 7 fakultas teknik, jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan merasakan bergemuruhnya hati, dan berkecamuknya fikiran dibantay berbagai tugas-tugas kuliah, jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan merasakan deg-degan nya saat berurusan ke biro untuk menyelesaikan berbagai berkas, dan jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak bisa naik pesawat gratis dan menapaki ranah impian suli.


Jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan bertemu dengan dosen sebaik bapak Sahran, bapak Muja, ibu Yurisna, Ibu Atikah dan semuanya yang tidak bisa suli sebut satu persatu, jika tidak menjadi mahasiswa suli mungkin tidak akan bertemu dengan orang-orang hebat dan menginspirasi, jika tidak menjadi mahasiswa suli mungkin tidak akan bertemu dengan artis, dan jika tidak menjadi mahasiswa mungkin suli tidak akan bertemu dengan seseorang yang membuat suli bahagia dan patah hati, hingga pada akhirnya mampu untuk pulih kembali.

Jika tidak merantau suli mungkin tidak akan merasakan hiruk-pikuknya tinggal di kos-kosan, jika tidak merantau mungkin suli tidak akan merasakan hidup jauh dari orang tua, penuh deraian air mata karena rindu, jika suli tidak merantau suli mungkin tidak akan merasakan makan hanya sehari sekali, makan hanya pakai nasi dan kecap, makan dengan makanan yang dipanasi berulang kali, mungkin jika suli tidak merantau mungkin suli tidak akan merasakan bersemangatnya pulang kampung dan malasnya untuk kembali berjuang lagi di perantauan.


Pada akhirnya semua yang dirasakan berakhir juga, ternyata benar bahwa semuanya hanyalah sementara, bahagia dan duka semuanya hanya sementara, lalu tugas kita untuk menghiasinya agar lebih indah untuk dikenang selalu.

Dalam tulisan ini suli ingin mendokumentasikan episode yang berjalan selama 1.279 episode itu, agar suli tidak lupa dengan perjalanan impian itu, yang akan selalu suli baca dan menjadi halaman paling mengharu biru dalam tulisan blog suli, yang tokohnya adalah Para Dosen terbaik suli di Progran Studi Kesejahteraan Sosial.

 

 Assalamu'alaikum Wr.Wb. Alhamdulillahhi bini'mati tatimusshalihat, wa alhamdulillahi a'la kulli hallin. shalawat dan salam terc...